Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik
Hadirin yang saya hormati,
Salah satu anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah akal. Dengan akal kita bisa berpikir, menimbang, menganalisis, dan mengambil keputusan. Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan: akal manusia memiliki batasan, tidak semuanya dapat dijangkau oleh kemampuan berpikir.
Cobalah kita perhatikan alam semesta ini. Langit yang luas, bumi yang kokoh, hukum alam yang sangat teratur, semuanya menunjukkan adanya sebuah kekuatan besar yang mengatur semuanya. Akal sehat akan sampai pada satu kesimpulan logis: pasti ada Sang Pengatur di balik keteraturan alam raya ini.
Namun, hadirin sekalian, akal hanya sampai pada kesimpulan itu saja.
Ketika akal mencoba melampaui batasnya untuk meneliti siapa Tuhan, apa hakikat Tuhan, atau bagaimana wujud Tuhan, maka di situlah akal menjadi bingung dan kacau. Karena pertanyaan-pertanyaan itu berada di luar jangkauan akal manusia.
Bayangkan jika 1.000 orang peneliti menggunakan akal masing-masing untuk menemukan Tuhan. Maka bisa jadi ada 1.000 kesimpulan yang berbeda-beda, saling bertentangan, saling menyangkal, dan saling menimbulkan kebingungan. Jika ini terjadi dalam masyarakat, bukankah kekacauan pemikiran akan berdampak pada kekacauan sosial? Bukankah perbedaan konsep tentang Tuhan yang tidak terarah dapat menimbulkan konflik, perselisihan, bahkan pertikaian?
Di sinilah kita harus sadar, hadirin sekalian:
Memahami hakikat Tuhan bukan domain akal. Ini adalah domain agama, wahyu, dan keyakinan.
Karena itu Tuhan tidak membiarkan manusia menebak-nebak tentang-Nya hanya dengan akal. Tuhan menghadirkan agama-agama, wahyu, kitab suci, dan para nabi agar manusia mengenal-Nya dengan cara yang benar. Tanpa itu, manusia akan saling berselisih tentang hal yang tidak mungkin mereka pahami sepenuhnya.
Hadirin yang berbahagia,
Di dunia ini terdapat ribuan agama dan kepercayaan. Karena itu seseorang yang ingin mencari keyakinan, carilah dengan cara yang terarah:
• Pelajari agama-agama besar lebih dulu,
• Pelajari kitab sucinya, sejarahnya, keasliannya,
• Pelajari ajaran pokoknya,
• Dan pahami bagaimana agama itu memandu manusia hidup damai, tertib, dan bermoral.
Ini bukan hanya penting untuk iman pribadi, tetapi juga penting untuk kamtibmas.
Mengapa demikian?
Karena masyarakat yang memahami batas akal akan menjadi masyarakat yang bijak dan tidak mudah memaksakan pikirannya sendiri kepada orang lain.
Masyarakat yang belajar agama secara benar tidak akan mudah terseret fanatisme buta, tidak mudah terprovokasi isu agama, dan tidak mudah merasa benar sendiri. Mereka memahami bahwa kebenaran tentang Tuhan datang dari wahyu, bukan dari spekulasi pribadi.
Akibatnya, masyarakat menjadi tenang, damai, dan jauh dari konflik horizontal. Inilah fondasi penting bagi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat yang memaksakan akal sampai melampaui batas—menebak Tuhan sesuka hati, mengarang konsep sesuai hawa nafsu—akan mudah terseret perpecahan, saling klaim, saling menyalahkan, bahkan saling membenci. Dan ini adalah ancaman nyata bagi kamtibmas.
Oleh sebab itu, hadirin sekalian:
Ketertiban akal dan ketertiban iman adalah dasar dari ketertiban masyarakat.
Jika hati dan pikiran seseorang terarah oleh ajaran agama yang benar, maka perilakunya pun akan terjaga. Ia tidak akan membuat keributan, tidak akan menjadi pelaku kejahatan, tidak akan terprovokasi ujaran kebencian, dan tidak akan berbuat hal-hal yang merusak keamanan lingkungan.
Karena itu, mari kita gunakan akal kita sesuai batasnya.
Gunakan akal untuk memahami tanda-tanda Tuhan, dan gunakan agama untuk memahami siapa Tuhan.
Gunakan akal untuk berpikir, dan gunakan agama sebagai petunjuk.
Dengan cara inilah masyarakat menjadi dewasa, harmonis, damai, dan kamtibmas dapat terjaga.
Semoga Allah menuntun kita semua dalam kebenaran, menenangkan hati kita, dan menjaga lingkungan kita dalam kedamaian serta keamanan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.